PORTALBUANA.ASIA, SUNGAI PENUH — Program Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) yang dilaksanakan di Desa Pendung Hiang, Kecamatan Tanah Kampung, Kota Sungai Penuh, di bawah pengawasan Balai Wilayah Sungai Sumatera VI (BWSS VI) dan menggunakan metode swakelola, menuai sorotan tajam dari warga serta petani setempat. Program yang sejatinya dirancang sebagai sarana pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan petani itu justru diduga kuat menyimpang dari tujuan awal pelaksanaannya.
Berbagai persoalan mencuat, mulai dari proses pembentukan kelompok, pelaksanaan pekerjaan di lapangan, hingga hasil akhir kegiatan yang dinilai tidak memberikan manfaat nyata bagi petani. Hasil penelusuran di lapangan mengungkap bahwa P3A yang berjalan di desa tersebut tidak merepresentasikan kelompok petani lokal sebagaimana mestinya.
Sejumlah petani mengaku tidak pernah dilibatkan sejak tahap awal. Mereka tidak diundang dalam musyawarah pembentukan P3A, tidak mengetahui perencanaan kegiatan, bahkan tidak memahami dasar penunjukan kelompok yang mengatasnamakan petani Desa Pendung Hiang. Kondisi ini menimbulkan tanda tanya besar terkait transparansi dan partisipasi dalam pelaksanaan program.
Lebih lanjut, kelompok tani yang tercantum dalam papan informasi proyek, yakni Kelompok Tani Subur, justru diduga bukan berasal dari petani setempat. Warga menyebut kelompok tersebut sebagai kelompok titipan yang hanya digunakan sebagai formalitas administratif agar proyek dapat berjalan. Nama kelompok tani diduga sekadar dijadikan tameng untuk meloloskan kegiatan P3A.
Situasi ini semakin menguatkan dugaan penyimpangan setelah muncul informasi bahwa pengelolaan P3A didominasi oleh hubungan kakak-beradik. Penguasaan kegiatan oleh lingkaran keluarga tersebut dinilai bertentangan dengan prinsip swakelola yang seharusnya berbasis partisipasi, keterbukaan, dan kepentingan petani secara kolektif.
Tak hanya pada aspek kelembagaan, warga juga melayangkan protes keras terhadap kualitas pekerjaan fisik. Hasil pembangunan saluran irigasi dinilai sarat dengan dugaan cacat mutu. Adukan semen disebut tidak sesuai standar teknis, bahkan ditemukan penggunaan batu kapur yang dikhawatirkan dapat mengurangi kekuatan konstruksi. Warga menilai pekerjaan dilakukan asal jadi dan tidak mencerminkan kegiatan yang berada di bawah pengawasan instansi teknis.
Selain kualitas, azas manfaat proyek pun dipertanyakan. Hingga kini, sumber air yang menjadi dasar pembangunan saluran irigasi dinilai tidak jelas dan tidak berfungsi optimal. Akibatnya, petani menilai keberadaan P3A tersebut tidak memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan produksi pertanian maupun kesejahteraan mereka.
“Dari awal proses sudah bermasalah, hasilnya pun tidak bisa dirasakan petani. Ini jelas tidak sesuai dengan tujuan P3A,” ujar salah seorang warga Desa Pendung Hiang.
Sorotan juga datang dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Cakrawala. Ramli, perwakilan LSM tersebut, menilai persoalan P3A di Desa Pendung Hiang mencerminkan problem yang lebih luas di wilayah Kerinci dan Kota Sungai Penuh.
“Banyak persepsi negatif dan temuan miring terkait pelaksanaan P3A di Kerinci dan Kota Sungai Penuh. Ini seharusnya menjadi bahan evaluasi serius bagi BWSS. Pengawasan tidak boleh hanya bersifat administratif, tetapi harus menyentuh langsung proses dan hasil di lapangan,” tegas Ramli.
Menurutnya, dugaan manipulasi kelompok tani, minimnya pelibatan petani, serta kualitas pekerjaan yang dipertanyakan menunjukkan lemahnya kontrol dalam pelaksanaan program swakelola. Ia mendesak adanya evaluasi menyeluruh, audit teknis, serta penelusuran legalitas kelompok yang mengatasnamakan petani dalam pelaksanaan P3A tersebut.
Warga berharap instansi teknis dan aparat pengawas tidak menutup mata terhadap berbagai dugaan ini. Mereka menuntut transparansi, akuntabilitas, dan tindakan tegas agar program P3A benar-benar berpihak pada petani, bukan justru menjadi sarana kepentingan segelintir oknum.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak pengelola P3A maupun instansi terkait belum berhasil dikonfirmasi untuk memberikan tanggapan resmi atas berbagai dugaan yang disampaikan warga

0Comments