TSMlBUr7GfOlGSG8TpC0TSd9
Light Dark
Relokasi Picu Polemik, Pedagang Tanjung Bajure Ngaku Diperlakukan Arogan oleh Juru Parkir

Relokasi Picu Polemik, Pedagang Tanjung Bajure Ngaku Diperlakukan Arogan oleh Juru Parkir

Relokasi Picu Polemik, Pedagang Tanjung Bajure Ngaku Diperlakukan Arogan oleh Juru Parkir
Table of contents
×



PORTALBUANA.ASIA, SUNGAI PENUH – Polemik relokasi pedagang Pasar Tanjung Bajure oleh Pemerintah Kota Sungai Penuh kian memanas. Sejumlah pedagang yang sebelumnya berjualan di bahu jalan dan kini dipindahkan ke dalam bangunan pasar, menyatakan ketidakpuasan mereka atas kebijakan tersebut.


Para pedagang mengaku tidak menerima relokasi karena berdampak langsung terhadap penurunan pendapatan. Mereka menilai lokasi baru di dalam pasar sepi pengunjung, sehingga aktivitas jual beli tidak berjalan sebagaimana mestinya.


“Kami sudah mencoba bertahan di dalam, tapi pembeli hampir tidak ada. Kondisi ini membuat kami kesulitan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,” ujar salah seorang pedagang.


Merasa terdesak, para pedagang sempat kembali berjualan di lokasi semula di bahu jalan. Namun, upaya tersebut memicu ketegangan. Berdasarkan pengakuan pedagang, mereka mengalami perlakuan tidak menyenangkan dari oknum juru parkir yang diduga bertindak arogan.


Pedagang menyebut, dagangan dan payung yang mereka gunakan untuk berjualan ditendang dan dibongkar secara paksa. Tindakan tersebut dinilai tidak mencerminkan pendekatan yang humanis terhadap masyarakat kecil yang tengah berjuang mencari nafkah.


“Kami hanya ingin berjualan seperti biasa, tapi malah diperlakukan seperti itu. Dagangan kami ditendang, payung kami dijatuhkan,” ungkap pedagang lainnya dengan nada kecewa.


Ironisnya, lokasi yang sebelumnya menjadi tempat mereka berjualan kini justru dialihfungsikan sebagai area parkir kendaraan roda dua. Kondisi ini semakin memperkuat rasa ketidakadilan di kalangan pedagang.


Para pedagang juga menyoroti adanya perlakuan yang dianggap tebang pilih. Mereka mengaku masih ada pedagang lain di sisi berbeda yang diperbolehkan berjualan di bahu jalan, bahkan aktivitas parkir tetap diizinkan di kawasan tersebut.


“Kami merasa dianaktirikan. Kenapa ada yang boleh berjualan, sementara kami tidak? Ini jelas tidak adil,” keluh salah seorang pedagang.


Merasa tidak mendapatkan keadilan, para pedagang kemudian mendatangi kantor DPRD Kota Sungai Penuh untuk menyampaikan aspirasi mereka. Dalam pertemuan tersebut, pedagang meminta perlindungan serta meminta DPRD untuk memperjuangkan agar mereka dapat kembali berjualan di lokasi semula atau setidaknya mendapatkan solusi yang layak.


Menanggapi hal tersebut, anggota DPRD Kota Sungai Penuh dari Komisi II langsung turun ke lokasi Pasar Tanjung Bajure untuk meninjau kondisi di lapangan. Kehadiran wakil rakyat tersebut disambut oleh para pedagang yang berharap adanya keadilan dan solusi nyata dari pemerintah.


Peninjauan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam mencari jalan keluar atas polemik yang terjadi, sekaligus memastikan kebijakan penataan pasar tidak merugikan masyarakat kecil.


Hingga saat ini, persoalan relokasi pedagang Pasar Tanjung Bajure masih menjadi perhatian publik. Para pedagang berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah bijak agar aktivitas ekonomi mereka dapat kembali berjalan normal tanpa adanya tekanan maupun perlakuan yang tidak semestinya.

0Comments