TSMlBUr7GfOlGSG8TpC0TSd9
Light Dark
Diduga Muncul Modus Baru Pasok Solar untuk PETI, Antrean Kendaraan di SPBU Kumun Jadi Sorotan

Diduga Muncul Modus Baru Pasok Solar untuk PETI, Antrean Kendaraan di SPBU Kumun Jadi Sorotan

Diduga Muncul Modus Baru Pasok Solar untuk PETI, Antrean Kendaraan di SPBU Kumun Jadi Sorotan
Table of contents
×


PORTALBUANA.ASIA SUNGAI PENUH – Dugaan praktik penyaluran Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis solar untuk memasok aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di wilayah perbatasan Kabupaten Kerinci–Merangin kembali menjadi sorotan. Setelah pengawasan terhadap jeriken dan kendaraan modifikasi diperketat aparat penegak hukum, kini diduga muncul modus baru yang memanfaatkan kendaraan operasional untuk memperoleh solar bersubsidi.

Berdasarkan informasi yang dihimpun media ini di lapangan, solar diduga dibeli menggunakan kendaraan pickup maupun dump truck yang rutin mengisi BBM di SPBU Kumun. Setelah keluar dari SPBU, solar tersebut diduga tidak seluruhnya digunakan sesuai peruntukannya, melainkan dijual kembali kepada pelaku PETI dengan harga yang jauh lebih tinggi.

"Setiap hari kendaraan yang mengantre di SPBU Kumun itu-itu saja. Kami menduga setelah mengisi solar, BBM tersebut dijual lagi kepada pelaku PETI," ujar salah seorang sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan, Jumat (24/7/2026).

Menurutnya, pola tersebut patut menjadi perhatian serius aparat penegak hukum. Pasalnya, ketersediaan pasokan solar merupakan salah satu faktor penting yang menunjang operasional alat berat maupun mesin yang digunakan dalam aktivitas penambangan emas tanpa izin.

Sumber tersebut berharap aparat tidak hanya melakukan pengawasan di area SPBU, tetapi juga menelusuri kendaraan-kendaraan yang rutin mengisi solar dalam jumlah besar. Langkah itu dinilai penting untuk memastikan apakah BBM bersubsidi benar-benar digunakan sesuai peruntukannya atau justru dialihkan kepada pelaku PETI.

"Kalau ingin memutus mata rantai aktivitas PETI, jangan hanya mengawasi di SPBU. Ikuti juga kendaraan yang setiap hari mengantre. Dari sana bisa diketahui ke mana solar itu dibawa dan apakah benar dijual kepada penambang ilegal," katanya.

Selain itu, tingginya keuntungan yang diperoleh dari penjualan kembali solar bersubsidi diduga menjadi salah satu alasan praktik tersebut masih terus berlangsung. Selisih harga yang cukup besar antara harga resmi di SPBU dengan harga jual di lokasi PETI dinilai sangat menggiurkan, sehingga memunculkan dugaan adanya oknum yang memanfaatkan kondisi tersebut untuk meraup keuntungan.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pengelola SPBU maupun aparat penegak hukum terkait dugaan modus penyaluran solar bersubsidi kepada pelaku PETI tersebut. Meski demikian, masyarakat berharap dilakukan penyelidikan secara menyeluruh agar dugaan tersebut dapat dipastikan kebenarannya sekaligus mencegah penyalahgunaan BBM bersubsidi yang merugikan negara dan masyarakat.

0Comments