PORTALBUANA.ASIA, SUNGAI PENUH — Di tengah keterbatasan ekonomi, pasangan suami istri Muktar dan Ratih, warga Desa Koto Renah, RT 09, Kecamatan Pesisir Bukit, Kota Sungai Penuh, harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup bersama tiga orang anak mereka.
Muktar sehari-hari hanya bekerja sebagai penggembala ternak milik orang lain. Penghasilan yang terbatas membuat keluarga tersebut harus menjalani kehidupan dalam kondisi serba kekurangan.
Keprihatinan semakin terasa karena rumah yang ditempati keluarga Muktar disebut sudah tidak layak huni. Bahkan, keluarga tersebut hingga kini belum memiliki fasilitas penerangan listrik yang memadai.
Kondisi itu turut berdampak pada pendidikan anak-anak mereka. Keterbatasan ekonomi membuat salah seorang anak Muktar dan Ratih terpaksa tidak dapat melanjutkan pendidikan.
Melihat kondisi tersebut, Ketua Harian LSM Petisi Sakti, Marjoni, tergerak untuk membantu. Ia berinisiatif menggalang donasi guna memenuhi kebutuhan dasar keluarga Muktar, khususnya menyediakan lampu penerangan tenaga surya agar anak-anak tetap dapat belajar pada malam hari.
Marjoni mengatakan, keprihatinannya muncul setelah dirinya turun langsung melihat kondisi keluarga tersebut.
“Setelah kami turun langsung ke lokasi, memang kondisi rumah Muktar sudah tidak layak lagi untuk dihuni. Dengan keterbatasan ekonomi yang mereka alami, bahkan salah seorang anaknya terpaksa tidak bisa melanjutkan pendidikan,” ujar Marjoni.
Sebagai bentuk kepedulian, Marjoni mengaku telah berupaya mencari dukungan dari berbagai pihak. Ia mendatangi sejumlah pihak, di antaranya Wakil Ketua DPRD Kota Sungai Penuh, Kejaksaan Negeri Sungai Penuh, serta para donatur yang memiliki kepedulian terhadap kondisi sosial keluarga tersebut.
“Bentuk kepedulian saya secara pribadi adalah menjalankan donasi. Saya sudah mendatangi Wakil Ketua DPRD dan Kejari Sungai Penuh, serta para donatur yang ingin membantu untuk membeli lampu penerangan tenaga surya,” katanya.
Selain menggalang donasi, Marjoni juga mengaku telah berupaya menghubungi Dinas Sosial untuk menyampaikan kondisi keluarga Muktar. Namun, hingga kini ia menyebut belum mendapatkan tanggapan.
Menurut Marjoni, persoalan penerangan di rumah Muktar juga menghadapi kendala teknis. Lokasi rumah yang cukup jauh dari permukiman warga menjadi salah satu hambatan untuk pemasangan jaringan listrik.
“Kalau saya lihat, untuk pemasangan listrik memang terkendala karena jaraknya cukup jauh dari rumah penduduk. Sementara untuk program bedah rumah juga belum bisa dilakukan karena tanah yang ditempati masih merupakan milik keluarga dan belum ada hibah,” jelasnya.
Marjoni berharap kondisi keluarga Muktar mendapat perhatian dari pemerintah maupun masyarakat yang memiliki kepedulian sosial.
Ia berharap bantuan yang diberikan tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan penerangan rumah, tetapi juga membantu anak-anak keluarga tersebut agar tetap memiliki kesempatan untuk belajar dan melanjutkan pendidikan.

0Comments