PORTALBUANA.ASIA, KERINCI – Mempererat silaturahmi sekaligus menelusuri jejak sejarah pusaka dan garis keturunan leluhur menjadi agenda utama kunjungan rombongan Pegawai Rajo Pegawai Jenang Suluh Bindang Alam Kerinci dari Kota Sungai Penuh ke kediaman Depati Sanggaran Agung, Desa Sanggaran Agung, Kabupaten Kerinci, pada 9 Oktober 2026.
Pertemuan yang berlangsung mulai pukul 20.30 WIB tersebut disambut hangat oleh Depati Sanggaran Agung bersama kemborekan dan perangkat adat. Selain mempererat hubungan persaudaraan, pertemuan ini menjadi forum musyawarah untuk membahas sejarah pusaka, silsilah keturunan, serta hubungan adat antara Sungai Penuh dan Sanggaran Agung.
Rombongan dari pihak Sanggaran Agung dihadiri Hartanto, Sayuti, Bukhari bergelar Depati Sanggaran Agung, serta sejumlah perangkat permenti, yakni Sayyidina Usman, Samsuar, Mat Lazim, Agusalim bergelar Rio Patoi, Mat Saner, Hamsah, Efrizal, dan Bustami bergelar Tumenggung.
Sementara itu rombongan dari Kota Sungai Penuh dihadiri H. Ari Wahyudi, S.Pd bergelar Ngabi Teah Satio Bawo, Pajri bergelar Depati Santiyudo, Andre Toba S. bergelar Depati Payung Negeri Panjang Panjang Rambut, Priska Armanto, S.AP bergelar Depati Sungai Penuh, Hendrizal, S.Ag, Edi Arsa & Laswardi H serta Adi Pebriandi bergelar Depati Palawang Negare dan dari Permenti hadir Edi Sofyanto Rio, Suprawadi Rio, Budi Jaya Rio, Afdal Rio, Damas Dviolla Rio, dan Resa Adi Brata Rio.
Salah satu pembahasan penting dalam pertemuan tersebut adalah sejarah Tombak Belang Berjanggut Jenggi Sanggo Rajo, pusaka adat yang menurut riwayat lisan dititipkan di Sanggaran Agung sebagai pusaka Pegawai Rajo Pegawai Jenang.
Dalam suasana penuh kekeluargaan, kedua pihak saling bertukar informasi dan penuturan mengenai asal-usul tombak tersebut, tata cara adat atau ico pakai Pugawe Rajo, Tanah Kadipan, serta berbagai aspek sejarah dan adat istiadat Kerinci.
Musyawarah dan tanya jawab dilakukan untuk memperdalam pemahaman mengenai kedudukan pusaka, tradisi pewarisan adat, serta hubungan historis antara para pemangku adat dari kedua wilayah.
Dalam penuturan sejarah yang dibahas, muncul nama Rajo Cayo, yang juga dikenal dengan sebutan Ria Caya, Arya Jaya, atau Rio Jayo dalam tradisi penyebutan di Sungai Penuh.
Menurut riwayat yang disampaikan dalam pertemuan tersebut, tokoh ini dikisahkan pernah melakukan perjalanan ke Mataram dan memperoleh gelar Rik Hana Hitam Panggar Bumi. Dalam perjalanan itu, ia disebut membawa pusaka Tombak Belang Berjanggut Jenggi.
Pusaka tersebut kemudian, berdasarkan penuturan lisan yang dibahas, dititipkan di Sanggaran Agung ketika Sungai Penuh berada dalam tatanan adat Pegawai Rajo Pegawai Jenang. Riwayat penempatan inilah yang dikaitkan dengan penyebutan tombak tersebut sebagai Tombak Belang Berjanggut Jenggi Sanggo Rajo.
Selain menelusuri sejarah pusaka, para pemangku adat juga membahas hubungan garis keturunan Rajo Cayo atau Ria Caya dengan Rio Jayo di Kota Sungai Penuh.
Dalam silsilah yang dipaparkan, Ria Caya dan Ninek Sadung atau Saladung Siyah disebut sebagai saudara kandung, anak dari Ninek Hulat. Ninek Hulat sendiri disebut memiliki lima orang anak, yaitu Ria Caya, Intan Baginda, Awang Malila, Sadung, dan Sapicit.
Sementara itu, garis keturunan Rio Jayo di Sungai Penuh, menurut riwayat yang disampaikan, ditelusuri melalui jalur Ninek Sadung.
Adapun urutan silsilah yang dipaparkan dalam pertemuan tersebut meliputi Rio Jayo Patah, Ratu Berembuk Suri, Gento Suri, Sapisum, Sebat, Sabidang, Cayo, Nenek Hitam, Sadung, hingga Hulat.
Pembahasan juga menyoroti prinsip pewarisan gelar dan pusaka dalam adat, yakni dari mamak kepada keponakan. Berdasarkan pemahaman adat tersebut, gelar dan pusaka yang dikaitkan dengan Ria Caya disebut memiliki hubungan pewarisan melalui Ninek Sadung beserta keturunannya secara turun-temurun.
Selain Tombak Belang Berjanggut Jenggi Sanggo Rajo, pertemuan tersebut turut menyinggung keberadaan pusaka Tombak Belang Berjanggut Jenggi Bunga Setangkai Kembang Duo, yang menurut keterangan dalam musyawarah masih tersimpan di Rumah Gedang Luhah Rio Jayo, Sungai Penuh.
Berbagai penuturan mengenai asal-usul pusaka, silsilah keturunan, dan tata adat tersebut menjadi bahan diskusi bersama untuk memperjelas hubungan sejarah serta kedudukan masing-masing pusaka dalam tradisi adat kedua wilayah.
Sebagai tindak lanjut dari pertemuan tersebut, kedua pihak juga membicarakan rencana kegiatan bersama untuk memperkuat silaturahmi sekaligus menelusuri jejak sejarah leluhur.
Salah satu agenda yang direncanakan adalah ziarah ke makam Rajo Cayo atau Ria Caya di Semurup. Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum untuk mengenang jasa dan peran tokoh adat terdahulu, menelusuri peninggalan sejarah, serta memanjatkan doa bagi para leluhur.
Rencana ziarah tersebut juga diharapkan dapat mempererat hubungan persaudaraan antara masyarakat adat Sanggaran Agung, Sungai Penuh, dan Semurup.
Pertemuan ini mencerminkan pentingnya komunikasi, musyawarah, dan silaturahmi antarpemangku adat dalam menjaga kesinambungan pengetahuan mengenai sejarah, silsilah keturunan, dan warisan budaya Kerinci.
Penelusuran sejarah pusaka dan garis keturunan diharapkan terus berlanjut melalui pertukaran informasi antarpemangku adat serta penelaahan terhadap sumber-sumber sejarah yang relevan. Dengan demikian, riwayat yang diwariskan secara turun-temurun dapat terus dipelajari dan dipahami oleh generasi penerus.
Silaturahmi tersebut diharapkan tidak hanya menjadi pertemuan sesaat, tetapi juga menjadi langkah berkelanjutan dalam merawat persaudaraan, memperkuat pemahaman sejarah leluhur, serta melestarikan warisan adat dan budaya Sakti Alam Kerinci agar tetap dikenal dan dihargai oleh generasi mendatang.
Penulis ; H. Ari Wahyudi, S.Pd
Sumber : pribhumi.com

0Comments