TSMlBUr7GfOlGSG8TpC0TSd9
Light Dark
Proyek Pasar Sungai Penuh Bernilai Rp46,8 Miliar Jadi Sorotan, Keselamatan Kerja Dinilai Amburadul

Proyek Pasar Sungai Penuh Bernilai Rp46,8 Miliar Jadi Sorotan, Keselamatan Kerja Dinilai Amburadul

Proyek Pasar Sungai Penuh Bernilai Rp46,8 Miliar Jadi Sorotan, Keselamatan Kerja Dinilai Amburadul
Table of contents
×


PORTALBUANA.ASIA, SUNGAI PENUH – Proyek Rehabilitasi Pasar Sungai Penuh yang menelan anggaran fantastis sebesar Rp46.827.692.400 kini menjadi sorotan publik. Proyek strategis di bawah naungan Kementerian Pekerjaan Umum yang dibiayai melalui APBN Tahun 2025–2026 tersebut mendapat perhatian serius masyarakat akibat kondisi lapangan yang dinilai semrawut serta progres pengerjaan yang mulai dipertanyakan.

Berdasarkan informasi pada papan proyek bernomor kontrak HK.0201-Gs9/35/2025, pekerjaan rehabilitasi pasar tersebut dikerjakan oleh PT Cimendang Sakti Kontrakindo dengan target penyelesaian selama 300 hari kalender sejak 22 Oktober 2025.

Namun, hasil pantauan di lokasi proyek hingga Sabtu (09/05/2026) memperlihatkan kondisi area pekerjaan yang dinilai jauh dari standar proyek bernilai miliaran rupiah. Tumpukan material tanah dan batu terlihat menggunung tanpa penataan yang rapi. Di sejumlah titik juga tampak kabel listrik menjuntai di atas area berlumpur dan galian terbuka yang berpotensi membahayakan keselamatan pekerja maupun masyarakat sekitar.

Tidak hanya itu, sejumlah pekerja terlihat beraktivitas tanpa menggunakan perlengkapan Alat Pelindung Diri (APD) secara lengkap. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran akan lemahnya pengawasan keselamatan kerja di lapangan.

Sorotan lainnya juga tertuju pada area pondasi bangunan. Beberapa lubang galian terlihat hanya ditutup menggunakan papan kayu seadanya di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu. Situasi tersebut dikhawatirkan dapat mempengaruhi kualitas konstruksi dan kekuatan bangunan dalam jangka panjang.

Selain itu, material proyek seperti kayu, besi scaffolding, hingga perlengkapan cor tampak berserakan di sekitar area kerja. Kondisi tersebut memunculkan penilaian bahwa manajemen proyek belum berjalan secara maksimal dan profesional.

Sejumlah pihak pun mulai mempertanyakan keseriusan pengawasan dari pihak terkait terhadap proyek yang menyedot anggaran negara hingga puluhan miliar rupiah tersebut.

“Proyek senilai Rp46 miliar seharusnya dikelola dengan standar keamanan, kebersihan, dan manajemen kerja yang baik. Kalau kondisi lapangannya saja terlihat berantakan, tentu publik berhak mempertanyakan kualitas pengawasan dari Satker Prasarana Strategis Jambi,” ujar seorang aktivis lingkungan yang enggan disebutkan namanya saat memantau lokasi proyek, Sabtu (09/05/2026).

Masyarakat Kota Sungai Penuh juga turut menyampaikan keresahan mereka. Usman, salah seorang warga yang berhasil dikonfirmasi media ini mengatakan bahwa Pasar Sungai Penuh merupakan pusat aktivitas ekonomi masyarakat yang sangat vital.

“Pasar Sungai Penuh adalah urat nadi ekonomi warga. Kalau proyek ini terlambat atau kualitasnya buruk, dampaknya akan dirasakan langsung oleh para pedagang yang sekarang harus berjualan di lokasi penampungan sementara,” ujarnya.

Ia juga mendesak pemerintah pusat, khususnya Kementerian Pekerjaan Umum, untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan proyek tersebut.

“Kami berharap ada evaluasi serius terhadap kinerja kontraktor agar anggaran negara sebesar Rp46,8 miliar benar-benar digunakan secara maksimal dan tidak terbuang percuma,” tambahnya.

Dengan besarnya nilai proyek serta tingginya harapan masyarakat terhadap pembangunan pasar yang representatif dan aman, publik kini menanti langkah tegas dari pihak terkait untuk memastikan proyek rehabilitasi tersebut berjalan sesuai standar mutu, tepat waktu, serta mengutamakan keselamatan kerja.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak PT Cimendang Sakti Kontrakindo belum memberikan keterangan resmi terkait berbagai sorotan yang muncul terhadap kondisi proyek di lapangan. (JEMI)

0Comments